Popular Posts

Ekonomi Berdikari dalam Konsepsi Sukarno dan Indonesia Masa Kini

Pada tahun 1932, Sukarno menuliskan analisisnya. Ekonomi Indonesia yang berwatak kolonial setidak-tidaknya memiliki tiga ciri sebagai berikut: Pertama, diposisikannya perekonomian Indonesia sebagai pemasok bahan mentah bagi negara-negara industri maju. Kedua, dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai pasar produk negara-negara industri maju. Ketiga, dijadikannya perekonomian Indonesia sebagai tempat untuk memutar kelebihan kapital yang terdapat di negara-negara industri maju.

Tigapuluhan tahun kemudian, pada tahun 1963, setelah masuknya Irian Barat sebagai bagian sah Republik Indonesia, Sukarno mencanangkan; Menghapuskan sistem ekonomi kolonial menjadi sistem "Ekonomi Merdeka", dengan bahasa yang populer adalah "Ekonomi Berdikari" (Berdiri di Atas Kaki Sendiri);


1. Indonesia tidak hanya memasok bahan mentah tapi menciptakan nilai tambahnya di Indonesia sendiri. Indonesia dan rakyat Indonesia menjadi Tuan Di Bumi-nya sendiri.

2. Indonesia harus menciptakan pasar-pasarnya sendiri, bahkan menguasai Pasar Internasional. Untuk itulah diciptakan Poros Jakarta-Hanoi-Pyongyang-Peking (Poros ini bukan sekedar poros politik, tapi Poros Perdagangan. Lalu diciptakan Pasar bersama di antara negara-negara Non Blok. Di atas Pasar itu, barulah bisa dibangun Ekonomi Baru yang Merdeka, Ekonomi yang didasarkan pada kesejahteraan masyarakat yang ada di dalamnya).

3. Indonesia harus memutar kapitalnya sendiri, membangun kekayaannya sendiri. Pembangunan Kapitalnya ini dijabarkan amat luas yang kemudian disusun oleh Djuanda. Nilai Lebih atas Produk harus dibangun di bumi Indonesia.

Konsepsi itu kemudian dipidatokan Sukarno saat berteriak “Mengganjang Malaysia” sekaligus meledek Malaysia sebagai "Negara yang berdiri tanpa konsepsi-konsepsi".

Jelas bagi Indonesia, konsepsi Sukarno adalah menghancurkan pasar dominasi asing, dan ini amat menakutkan bagi Amerika Serikat dan negara sekutunya. Karena ketika pasar-pasar itu kita kuasai, "Maka Lonceng kematian Kapitalisme akan berbunyi,…"

Tapi, lonceng itu tak pernah berbunyi. Melainkan Sukarno kemudian dibui di Wisma Yaso, hingga ajalnya! Dan Indonesia masa kini? Persis yang dipidatokan Sukarno setengah abad lalu!

No comments:

Post a Comment