Popular Posts

Dibalik Kegagalan Esemka Uji Emisi

Upaya ATPM Mengganjal Mobnas?

NERACA

Jakarta – Sejumlah kalangan menduga kegagalan Esemka Rajawali alias mobil Esemka melakoni uji emisi sebagai bagian dari upaya Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) menjegal program mobil nasional (mobnas) yang tengah dirancang pemerintah. Kendati belum ada data resmi, gagalnya uji emisi Esemka di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP), Tangerang Selatan, telah menimbulkan beragam spekulasi terkait persaingan bisnis tak sehat antara ATPM dan produsen cikal-bakal mobnas.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara membenarkan adanya indikasi permainan dari ATPM untuk menggagalkan kehadiran mobil nasional seperti mobil Esemka di pasar mobil dalam negeri.

“Ini bukanlah kejadian yang pertama kalinya yang dilakukan ATPM untuk menggagalkan proyek kendaraan nasional kita. Ini sudah mendarah daging sejak dahulu dan peran pihak asing yang juga ada di ATPM juga tidak dilepaskan untuk upaya penggagalan ini,” teran Marwan kepada Neraca, Minggu (4/3).

Karena itu, lanjut Marwan, salah satu solusinya adalah Presiden Susilo Bambang Yuhoyono harus berdiri di depan untuk mengatakan bahwa proyek mobil nasional harus sukses. “SBY harus berani mengatakan ini adalah proyek nasional yang perlu disukseskan,” tegasnya.

Marwan menegaskan, urusan gagalnya mobil Esemka lakoni uji emisi itu adalah masalah kecil. “Kalau cuman urusan karbon yang dikeluarkan terlalu banyak, hal itu bisa diatasi. Kita harus tetap dukung upaya pengembangannya agar menjadi lebih baik lagi. Ini adalah bukan akhir dalam perjalanan mobil Esemka,” lugasnya.

Persaingan Tak Sehat

Senada dengan Marwan, anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI Perjuangan Aria Bima membenarkan adanya dugaan dan potensi persaingan tidak sehat antara ATPM dan produsen mobnas yang pada gilirannya mengganjal langkah ketiga cikal-bakal mobnas, yakni mobnas Esemka Rajawali, mobnas Kancil dan mobnas Gulirkan Energi Alternatif (GEA) untuk masuk dalam perindustrian dan perdagangan mobil di Indonesia.

“Tidak menutup kemungkinan mendapat banyak kendala. Di sini ada juga kemungkinan persaingan yang tidak sehat. Dari Jokowi (walikota Solo pemrakarsa Esemka Rajawali) sendiri saja Esemka sudah memenuhi syarat. Makanya kami meminta data dari stakeholders esemka secepatnya. Memang uji emisi juga butuh 1-2 kali,” tegas Aria, kemarin.

Namun sejauh ini, menurut Aria, Komisi VI DPR sedang mengupayakan untuk menindaklanjuti kegagalan uji emisi mobnas. Hari ini Komisi VI akan mengundang stakeholders Esemka untuk membahas faktor-faktor yang membuat esemka gagal dalam uji emisi beberapa hari lalu. Selanjutnya, dalam waktu dekat Komisi VI akan langsung terjun ke pabrik Esemka untuk memantau produksi mobnas.

“Besok (hari ini), kami undang dulu stakeholders-nya dulu, kami kumpulkan data, mana-mana yang membuat Esemka gagal. Hal-hal apa yang tidak dibuat lulus. Semua kita perbaiki. Tanggal 14-15 Maret ini juga kita terjun ke titik-titik pabriknya untuk langsung memantau perkembangan mobnas,” jelasnya.

Pandangan sedikit berbeda dikemukakan Muhammad Qudrat Nugraha, dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta. Dia tidak meyakini adanya penjegalan ATPM terhadap kehadiran mobil Esemka, dan berakibat Esemka gagal uji kelayakan. “Kalau untuk Esemka, saya tidak yakin kalau ATPM melakukan penjegalan, karena speknya terlalu kecil, itu justru akan mengakibatkan nama ATPM-nya sendiri yang rusak,” tandasnya.

Menurut Qudrat, jika program mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car-LCGC) Kementerian Perindustrian dengan harga di bawah US$ 10 ribu atau Rp 100 juta terealisasi, maka dipastikan ATPM akan ketar-ketir untuk bersaing dengan mobil nasional. Maklum, pastinya ATPM tidak ingin pasarnya dirusak oleh program mobil nasional. ”Ini yang justru dihawatirkan ATPM,” tegasnya.

Terkait hal ini, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengatakan, tidak lulusnya mobil Esemka dalam uji emisi,memang lebih disebabkan Esemka masih jauh dari ambang batas yang sudah ditetapkan. Menurut dia, banyak mobil dari luar negeri yang datang ke Indonesia ditarik kembali karena tidak lulus uji di Indonesia. “Sampai saat ini, saya tidak mememukan adanya intervensi dari ATPM manapun. Apabila memang Esemka sudah memenuhi syarat, pasti akan lulus uji tersebut karena kami semua mendukung mobil Esemka,” ujarnya.iwan/bari/maya/ahmad/munib

(iwan/bari/maya/ahmad/munib)

No comments:

Post a Comment