Popular Posts

Wawancara Hutomo Mandala Putra : "Timor Itu seperti Anak SD"

SEJAK proyek Mobil Nasional (MOBNAS) Indonesia ditandatangani pada 1996, kontroversi terus merebak. Kritik pun tak kunjung berhenti, terutama dari luar negeri. Namun, pemerintah tetap mempertahankan proteksi untuk PT Timor Putra Nasional (TPN) yang ditunjuk menjadi pionir proyek itu. 

Begitu bersemangatnya pemerintah membela proyek mobil Timor sampai terkesan apa pun siap dipertaruhkan demi proyek itu. Perkembangan baru, ketika pemasaran Timor lesu belakangan ini, pemerintah pun menginstruksikan departemen-departemen untuk membeli sedan itu. Maka, muncul pertanyaan: mengapa pemerintah sangat ngotot memperjuangkan kepentingan PT TPN. Apakah karena perusahaan itu milik putra presiden atau karena ambisi untuk punya kendaraan nasional semata?

Bos PT TPN Hutomo Mandala Putra menyatakan, apa yang dilakukan pemerintah itu masih wajar. Berikut ini wawancara Reporter D&R Mohamad Subroto dengan putra keenam Presiden Soeharto itu perihal mobnas dan isu aktual lain.

Apa yang menyita perhatian Anda saat ini? Mobnas Timorkah?
Mobnas Timor memang menyita perhatian saya. Soalnya, pemerintih menargetkan tiga tahun untuk memenuhi kandungan lokal sebesar 60 persen. Itu bukan pekerjaan ringan, terutama yang berkaitan dengan pendanaan. Tapi, kami yakin bisa memenuhi target pemerintah. Soalnya, di dalam negeri sendiri sudah banyak industri komponen yang mandiri.
Berapa sebetulnya dana yang dibutuhkan Timor?
Dana untuk memenuhi target ini cukup besar. Sampai akhir tahun depan direncanakan US$ 1,3 miliar.
Selain dari konsorsium, dari mana Timor mendapat dana?
Target ini memang harus dibarengi dengan pencarian pinjaman dana yang lebih lunak, seperti jangka pengembalian yang lebih panjang. Timor juga akan masuk bursa, selambat-lambatnya akhir 1998. Pada waktu penawaran harga perdana perusahaan di bursa (initial public offering -- IPO), kami juga harus meyakinkan masyarakat bahwa investasi yang dilakukan membuat Timor bisa mencapai kandungan lokal di atas 60 persen. Tujuannya: kami bisa bersaing secara sehat dari bebas dengan industri otomotif lain di Indonesia dan di negara-negara ASEAN menjelang AFTA tahun 2003 . Kami telah mempersiapkan segalanya secara matang. Tinggal waktu saja yang menentukan.
Ada pembatalan pinjaman untuk Timor dari bank luar negeri sehubungan gugatan Jepang, Uni Eropa, dan Amerika ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Apakah itu tidak mengganggu?
Bank internasional dari Jepang dan Eropa semula memang akan memberi pinjaman dana. Tapi, mereka menjadwalkan kembali pinjaman tersebut karena persoalan WTO. Mereka khawatir Indonesia akan kalah di WTO. Kekalahan itu membuat program mobnas akan dihentikan. Padahal, sebetulnya, penyelesaian perkara di pengadilan, termasuk mobnas di WTO, akan butuh waktu lama. Sementara itu, fasilitas yarig diberikan untuk Timor terbatas waktunya. Pemerintah sendiri mencambuk kami agar bisa memenuhi target kanduagan lokal yang ditentukan, yaitu 20 persen pada tahun pertama, 40 persen pada tahun kedua, dan 60 persen pada tahun ketiga. Malah, Timor akan melompat dari target kandungan 20 persen langsung ke 60 persen.
Bagaimana Anda menanggapi gugatan negara maju ke WTO itu?
WTO tidak menjadi halangan bagi Timor sebagai perusahaan. Soalnya, kami hanya berkewajiban memenuhi peraturan dalam Inpres (No. 2 Tahun 1996) dan SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan tentang perusahaan pionir yang berkewajiban memenuhi target kandungan lokal. Timor hanya terkait dengan WTO seputar isu apakah Timor bisa bertahan di pasar selarnanya atau hanya dalam jangka waktu tertentu. Dulu, ada program mobnas MR 90, tapi tidak bertahan lama.
Anda optimistis Timor bertahan di pasar?
Sementara ini orang memang masih menunggu dan melihat Timor. Dan, kami di Timor harus membuktikan bisa melaksanakan segalanya sesuai dengan komitmen. Soalnya, kandungan lokal itu bukan hanya kewajiban yang diberikan pemerintah ke Timor, tapi juga isi proposal yang diberikan Timor ke pemerintah.
Tapi, akibat gugatan WTO, bank di luar negeri batal memberi pinjaman?
Betul. Tapi, kami masih mungkin mendapatkannya setelah mengeluarkan jaminan kepada mereka. Kami lantas berpikir, kalau jaminan dari Timor itu bisa diberikan ke perbankan nasional, mengapa mesti ke bank internasional.
Selain upaya pemerintah, apa yang bisa dilakukan Timor sehubungan dengan WTO ?
Pemerintah sudah membentuk tim khusus. Nanti, tim itulah yang akan mencari alternatif negosiasi ke negara yang melakukan klaim atas kebijakan mobnas. Tapi, kalau mereka ingin adil, Indonesia sebagai negara berdaulat wajar saja melakukan proteksi terhadap industri otomotif dalam negerinya. Selama ini, proteksi seperti itu juga dilakukan negara maju. Amerika, Jepang, atau Korea melakukan hal yang sama pada awal pembangunan industri otomotifnya, beberapa puluh tahun silam. Lihat juga Proton Saga di Malaysia atau Maruti di India. Tidak ada yang mengajukan protes. Tuntutan di WTO itu sebetulnya tidak adil.
Tapi, negara-negara yang menuntut merasa dirugikan oleh kebijakan mobnas yang protektif.
Proteksi atau fasilitas yang diberikan ke Timor selama ini tidak absolut. Proteksi ke Timor tidak membuat produsen lain tidak boleh memasarkan produknya. Mereka masih memiliki kesempatan untuk memasarkan produknya. Produsen dari Jepang, Eropa, bahkan Amerika, masih bisa menjual produknya secara bebas di sini. Pemerintah Indonesia telah memberi proteksi selama 25 tahun kepada mereka. Tapi, mereka lambat sekali bersedia memenuhi kandungan lokal yang 60 persen itu. Lalu, kalau ada perusahaan bisa melakukan lokalisasi lebih dari 60 persen selama tiga tahun sekaligus memakai brand name atau nama Indonesia, mengapa lantas diributkan? Seharusnya justru didukung oleh masyarakat atau bangsa Indonesia.
Jadi, bagi Anda, tuntutan tadi semata perkara persaingan bisnis?
Soalnya, ada kepentingan ekonomi atau motif dagang. Mereka hanya menginginkan Indonesia selama menjadi importir otomotif. Dengan begitu, Indonesia menjadi pasaran paling empuk bagi negara maju, apalagi nanti ada perdagangan bebas APEC pada tahun 2010 untuk negara berkembang dan tahun 2020 untuk negara maju. Saat itu, Indonesia pasti tidak akan bisa memproduksi industri otomotif. sendiri. Soalnya, yang akan dihadapi langsung adalah produsen kaliber kelas dunia dengan tingkat keterampilan ekonomi yang sangat baik. Ditambah lagi kebijakan proteksi saat itu yang sudah tidak bisa dilakukan lagi. Akibatnya, industri otomotif Indonesia akan mati. Devisa yang akan dihamburkan untuk membeli kendaraan akan lebih besar lagi. Dampak industri otomotif pada penerimaan negara memang besar. Lihat saja pertikaian perdagangan otomotif antara Jepang dan Amerika, beberapa tahun lalu. Orang tidak banyak melihat kepentingan yang jauh ke depan seperti ini. Jangan dilihat satu atau dua tahun ini, tapi 10 atau 20 tahun ke depan. Tidak memiliki industri otomotif sendiri dampaknya akan fatal bagi Indonesia dan baru akan terasa pada kemudian hari.
Berarti proteksi sah-sah saja?
Proteksi berlaku di mana-mana di dunia ini. Apakah Amerika tidak memproteksi industri tekstilnya? Anggap saja Amerika bisa menyerap pasar tekstil sebesar satu juta. Tapi, kapasitas produksi mereka hanya 800 ribu. Mereka hanya perlu impor 200 ribu dan jumlah itulah yang akan dibagi-bagi ke negara-negara importir. Cara itu supaya dianggap adil, padahal sebetulnya proteksi.
Selain itu, Anda menganggap gugatan panel Jepang dan Uni Eropa ke WTO merugikan Timor?
Pasti merugikan. Seharusnya, Timor mendapat citra yang baik, yaitu mampu memenuhi kandungan lokal 60 persen dalam waktu singkat. Persoalannya, apakah yang menggugat itu mau mengubah isi prinsipiil agar, misalnya, Astra atau Indomobil bisa memenuhi kandungan lokal 60 persen dan mendapat perlakuan sama dengan Timor? Mereka lebih senang mengganggu Timor dengan berusaha membatalkan fasilitas atau kemudahan yang didapat Timor. Timor itu seperti anak sekolah dasar. Jadi, jangan memberikan ujian dengan soal seperti yang dikasih kepada mahasiswa. Tidak bisa seperti itu. Tingkat kemampuannya berbeda.
Adanya gugatan WTO membuat semua potensi diarahkan untuk menyukseskan program mobnas. Apakah itu justru bukan suatu keuntungan bagi Timor?
Saya rasa tidak betul kalau ada anggapan semuanya diarahkan untuk Timor. Dasar hubungan yang dijalin oleh Timor dengan pihak terkait saling menguntungkan atau bisnis semata.
Bukankah konsorsium perbankan nasional juga terbentuk setelah adanya sengketa di WTO?
Saya rasa itu hanya sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Konsorsium terbentuk karena berkaitan dengan legal lending limit dari Bank Indonesia. Soalnya, dana yang dibutuhkan Timor cukup besar. Karena itu, bentuknya konsorsium. Tidak ada ketakutan perbankan bahwa proyek Timor yang akan diberi pinjaman memiliki risiko tinggi sehingga pinjaman harus dibagi-bagi dan dibentuk konsorsium.
Ada kabar Bank Bumi Daya (BBD) tidak lagi ikut konsorsium. Alasannya karena kelayakan proyek Anda sendiri.
Itu cuma berkaitan dengan legal lending limit. BBD punya dana, tapi tidak bisa bergabung dalam konsorsium karena peraturan Bank Indonesia tadi. Soalnya, mereka sudah sempat membiayai Timor selama ini. Impor Timor completely build up dari Korea memakai dana dari BBD. Bila mereka memberi pinjaman dana lagi, akan melanggar peraturan Bank Indonesia.
Direktur Utama Bank Central Asia (BCA) Abdullah Ali sempat mengatakan BCA belum memutuskan akan ikut dalam konsorsium.
Siapa yang bilang? Dia sendiri yang datang sewaktu Timor mengadakan presentasi. Ia mengatakan hal itu mungkin karena tidak mau menjelaskan secara panjang-lebar saja.
Jadi, Anda sudah meyakinkan kalangan perbankan yang terlibat konsorsium dengan menyodorkan hasil studi kelayakan proyek?
Kami sendiri sudah membuat studi kelayakan dan sudah disampaikan ke bank-bank yang terlibat konsorsium. Studi kelayakan itu nanti juga akan diperlukan untuk meyakinkan investor dalam IPO, agar mereka yakin saham Timor yang dibeli memiliki prospek baik. Saya rasa para bankir sendiri akan tahu suatu proyek layak atau tidak untuk diberi pinjaman. Mereka tidak akan sembarangan.
Tapi, angka penjualan Timor yang belum tinggi bisa menjadi pertimbangan tersendiri bagi mereka, kan?
Kami sudah menjelaskan kepada mereka bahwa bukan hanya Timor yang mengalami penurunan angka penjualan. Dalam suasana pemilu dan menjelang Sidang Umum MPR seperti sekarang, semua produsen otomotif mengalami hal serupa. Toyota Kijang yang sudah lebih dulu eksis di pasar saja sempat mengalami penurunan angka penjualan.
Sebetulnya, apakah konsorsium masih meragukan proyek mobnas Anda dan takut pinjaman yang diberikan akan menjadi kredit macet?
Orang khawatir, sih, boleh-boleh saja. Bila sampai terjadi kredit macet, tentu proyek ini tidak layak. Kalau sampai tidak layak, tentu saya sejak awal tidak bersedia menangani proyek ini. Dan, kalau, memang sampai terjadi kredit macet, saya sendiri yang bertanggung jawab. Saya sendiri yang akan menjadi jaminan, baik sebagai pimpinan tertinggi di Timor atau sebagai pemegang saham di PT TPN. Yang jelas dan pasti: saya jamin pinjaman untuk Timor akan dikembalikan sesuai jadwal dan tidak akan menjadi kredit macet. Jaminan pengembalian seperti itu jelas sudah menjadi risiko dalam bisnis. Nanti, toh, Timor bukan semata milik Hutomo M.P. melainkan juga milik masyarakat, setelah masuk bursa.
Apakah pihak Anda akan meminta dana murah?
Kami tidak meminta dana murah atau Kredit Likuidasi Bank Indonesia (KLBI) dari pemerintah. Tapi, kalau dapat, ya, kami bersyukur. Namun, terus terang, kami tidak menginginkan dana murah karena bisa menjadi isu politik lagi. Kami tidak menginginkan hal seperti itu. Saya akan mendapatkan dana murah justru dari masyarakat setelah nanti masuk bursa.
Di dalam negeri, apakah proteksi untuk PT TPN yang membuat orang menjadi apriori?
Saya rasa tidak beralasan juga kalau penunjukan itu menimbulkan apriori pada masyarakat. Kami memang belum bisa memenuhi target penjualan, tapi sudah menguasai sekitar 50 persen dari total pemasaran sedan. Itu dicapai cuma dalam waktu enam bulan. Saya mengucapkan terima kasih sekali kepada para pembeli Timor. Dan, kami tidak akan mengecewakan konsumen karena produk Timor bisa dibuktikan keandalannya. Kami mengambil produk dari KIA karena, selain andal, mereka juga mau memberikan transfer teknologinya.
Terkesan Timor tiba-tiba saja ditunjuk sebagai perusahaan pionir.
Timor memang pemain baru dalam industri otomotif di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu, kami membutuhkan tahapan-tahapan. Bukan hanya dalam pembangunan pabrik, melainkan juga dalam memperkenalkan produk ini kepada masyarakat. Dalam tahap awal, kami memang meminta agar Timor tidak dibuat di Indonesia, tapi di Korea. Dari situ, kami memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Timor merupakan produk bermutu baik. Soalnya, diadopsi dari produk yang sudah terbukti keunggulannya di pasar. Setelah itu baru kami mengembangkan produk itu dengan cara memproduksi dan melakukan rancang-bangun sendiri.
Tapi, penunjukan PT TPN yang pemain baru sebagai perusahaan pionir tetap menimbulkan keraguan, bahkan prasangka.
Kalau tidak diberikan kepada pemain baru, justru akan mematikan perusahaan otomotif yang lain. Itu pasti akan terjadi seandainya satu perusahaan lama, seperti Astra, yang ditunjuk sebagai pelaksana program mobnas dan mendapat fasilitas seperti Timor. Penunjukan Astra akan membuat Indomobil atau perusahaan otomotif yang lain langsung mati seketika. Astra sudah memiliki jaringan penjualan plus lokalisasi sudah 40 persen. Mereka tidak sulit meningkatkan kandungan lokal, menurunkan harga, lalu menguasai pasar. Penunjukan Timor tidak akan mematikan perusahaan otomotif lain. Mereka masih memiliki kesempatan untuk mengejar kandungan lokal sampai 60 persen. Tapi, kalau mereka tidak mau mengejar kandungan lokal sampai 60 persen, mereka nanti akan berat bersaing dengan Timor. Maka, kemudian, Bimantara meninggikan kandungan lokal sekaligus menurunkan harga. Itu semua untuk mendekati harga Timor. Selain dengan cara itu, mereka akan kehilangan pasar. Ini satu segi kewajaran dari penunjukan pemain baru oleh pemerintah. Bagi Timor sebagai pemain baru, semuanya perlu waktu: memperkenalkan produk, membangun pabrik, membangun jaringan pemasaran.
Tapi, penunjukan PT TPN sebagai pionir program mobnas tetap menimbulkan kerugian bagi perusahaan otomotif lain.
Merugikan, ya, pasti merugikan. Tapi, yang penting, tidak sampai mematikan. Soalnya, nama Timor belum dikenal masyarakat. Bandingkan dengan Mazda, Toyota, Suzuki, Ford, atau yang lain. Tambahan lagi: Timor sebagai industri otomotif, begitu lahir, langsung mendapat citra kurang baik. Tapi, memang yang selalu diekspos oleh pesaing di dalam bisnis, ya, segi kekurangan. Dulu, agen tunggal pemegang merek (TPM) memang sempat meributkan Timor. Tapi, sekarang, mereka malah mau bekerja sama.
Orang juga selalu mengaitkan posisi Anda sebagai putra presiden dalam penunjukan PT TPN sebagai perusahaan pionir.
Saya pikir tidak seperti itu. Sekali lagi, sebagai pemain baru, kami membutuhkan proteksi. Sementara itu, ATPM lain cuma perlu kandungan lokal 20 persen lagi untuk mendapatkan proteksi atau fasilitas yang sama. Selain itu, apa yang saya jual atau usulkan ke pemerintah merupakan sesuatu yang wajar. Tujuannya: bangsa Indonesia mandiri dalam industri otomotif dan rekayasa serta rancang bangunnya. Sangat disayangkan kalau kita yang sudah bisa memproduksi kapal laut dan pesawat terbang belum bisa memproduksi mobil sendiri.
Lalu, mengapa mobil Timor yang diimpor utuh dari Korea sudah dikategorikan sebagai mobil nasional?
Kami membutuhkan mobil itu (impor build up) untuk membangun jaringan pemasaran dan pengenalan produk. Bagaimana bisa membangun jaringan pemasaran jika tidak ada produk yang bisa dijual? Maka, dalam proposal, kami juga meminta kepada pemerintah agar mobil nasional diproduksi dulu di Korea sampai 45 ribu unit. Dengan cara itu, kami sudah siap dengan jaringan pemasaran saat pabrik di Cikampek mulai berproduksi pada Juni 1998 atau paling telat September 1998. Kalau saat itu baru dibangun jaringan pemasaran, waktu yang dibutuhkan semakin lama. Kami memang menempuh jalan sesingkat mungkin. Dan, persaingan Timor dengan industri otomotif lain memang baru tahun 1999.
Rupanya, jaringan pemasaran dan pengenalan kepada masyarakat belum mulus. Bukankah belum tercapainya target penjualan sebagai bukti apriori dari masyarakat?
Orang ingin membuktikan secara langsung. Memang perlu waktu dan tidak mungkin posisi Timor bisa sama dengan yang lebih dulu, hanya dalam enam bulan. Kami terus melakukan penjelasan. Bahkan, memberi kesempatan uji kendaraan (test drive) kepada masyarakat. Itu agar mereka yakin bahwa hal jelek yang didengar tentang Timor, seperti Timor itu mobil kaleng, terbantah.
Tapi, tampaknya ada kesalahan penetapan target?
Persaingan bisnis yang betul-betul kompetitif untuk Timor baru pada tahun 1999. Saat ini, kami hanya lebih melakukan penetrasi pasar. Angka penjualan Timor sendiri menunjukkan kenaikan. Sementara itu, PT Timor Distributor Nasional akan terus meyakinkan bahwa Timor adalah mobil murah dengan kualitas tinggi seperti mobil mahal lainnya. Nantinya, Timor juga akan dijual ke pasar internasional sehingga harus berstandar internasional.
Bukankah tingkat penjualan yang tinggi akan semakin sulit tercapai dalam suasana pemilu dan menjelang Sidang Umum MPR?
Itu memang sangat berpengaruh bagi industri otomotif, termasuk Timor. Semua jenis kendaraan bermotor mengalami penurunan penjualan. Tapi, sekarang sudah mulai membaik lagi. Dan, Timor masih di depan dalam penjualan sedan.
Apa, sih, kiat agar penjualan Timor naik?
Bukan kiat lagi namanya kalau saya memberitahukan, ha-haha....
Kabarnya, stok 30 ribu mobil Timor dari Korea itu akan diekspor.
Mobil-mobil itu tidak akan diekspor. Ini perlu ditegaskan. Jadi, tetap akan dipasarkan di sini karena stoknya tinggal enam ribu unit pada akhir tahun ini. Bukan 30 ribu seperti yang dibilang orang. Yang akan diekspor nantinya adalah Timor yang diproduksi sendiri di dalam negeri.
Bagaimanapun, Timor terus disorot di dalam negeri....
Silakan saja orang bertanya. Itu hak mereka. Yang penting adalah tujuan akhir Timor, yaitu menguasai teknologi industri otomotif. Termasuk menguasai rekayasa rancang-bangun.
Bukankah kebijakan mobnas dan proteksi tadi lebih berunsur politik ketimbang ekonomi?
Kalau orang mau mengait-ngaitkan seperti itu, ya, bisa saja. Sah-sah saja ada yang beranggapan seperti itu. Tapi, yang lebih penting sebetulnya adalah kemandirian bangsa Indonesia dalam industri otomotif.
Bagaimana Timor akan mencapai kandungan lokal 60 persen, sementara rencananya hanya mengandalkan produksi in house nanti di pabrik Cikampek dan tanpa meneruskan kerja sama dengan penjual (vendor) karena mutu komponen dianggap tidak seratus persen?
Anda mendengar itu dari mana? Sebaiknya, tanyakan langsung ke saya. Industri otomotif di mana pun memang tidak akan memproduksi komponennya secara in house. Paling banyak sekitar 50 persen. Sisanya melalui vendor development atau out house. Timor sendiri akan melakukan hal itu. Dari 65 persen, 20 sampai 25 persen komponen diproduksi out house. Jadi, sampai kapan pun Timor akan tetap bekerja sama dengan penjual di sini.
Mengapa Timor baru berencana menurunkan harga lima tahun lagi, sementara Bimantara Cakra dan Nenggala sudah melakukannya?
Kita lihat saja nanti. Timor sendiri tidak memiliki rencana menurunkan harga. Cakra dan Nenggala menurunkan harga karena sudah menaikkan lokalisasi. Tahun depan juga bisa diturunkan lagi kalau lokalisasi bertambah. Nanti, tingkat harga akan betul-betul sama dengan Timor. Mereka juga sebetulnya pemain lama. Mengapa tidak dari dulu saja? Timor pasti mikir-mikir untuk terjun dalam industri otomotif dan merencanakan lokalisasi 60 persen dalam waktu tiga tahun.
Apakah ada rencana menyatukan pengembangan Timor dengan Lamborghini?
Saya tidak akan menggabungkannya secara langsung. Mungkin dalam hal penelitian dan pengembangan (litbang) saja. Orang-orang yang berpengalaman dalam litbang Lamborghini akan ditarik membantu Timor. Institusi di Eropa nantinya juga akan diminta bekerja sama untuk mengembangkan produk-produk Timor.
Mengapa tidak meneruskan bekerja sama dengan Setiawan Djodi dalam Lamborghini? Apakah dianggap tidak menguntungkan?
Tidak seperti itu. Ini pertimbangan bisnis semata. Dia tidak ingin menanamkan modalnya di Lamborghini. Itu sebabnya dia keluar dari proyek Lamborghini. Lamborghini sendiri nanti akan masuk bursa di Eropa atau Amerika. Rencananya tahun depan. Produksi Lamborghini sendiri hanya seratusan unit per tahun. Tahun lalu hanya 250 unit. Tapi, harganya memang mahal dan itu yang membedakan Lamborghini dan industri otomotif yang memiliki produk massal seperti Timor.
Jadi, lebih baik memfokuskan diri pada Timor karena akan lebih menguntungkan?
Dari segi komersial, ya. Semua produk massal di manapun secara komersial memiliki masa depan yang baik. Keuntungan komersial itu sebagian akan disisihkan untuk riset dan pengembangan. Tapi, Lamborghini tetap menjadi brand hame yang eksis pada tahun 1990-an. Kami mengambil alih manajemen mereka, lalu memperbaiki untuk meningkatkan keuntungan yang seharusnya bisa dicapai.
Soal lain. Bagaimana Anda menanggapi sorotan terhadap bisnis putra-putri presiden?
Memikirkan hal itu cuma membuang-buang waktu. Soalnya, itu hanya muncul dari orang yang sirik atau berpikiran negatif. Daripada memikirkan hal itu terus-menerus lebih baik tetap melakukan hal yang positif, membangun bangsa. Apalagi, yang kami lakukan selama ini tidak merugikan negara. Kami ikut membangun bukan dengan cara merampok atau mengorupsi uang negara. Tapi, kami melakukannya lewat cara yang wajar saja, seperti masyarakat lainnya. Kalaupun ada kemudahan, mungkin kemudahan bertemu dengan pejabat yang bersangkutan. Tapi, bukan berarti kami meminta dana dari mereka tanpa mengembalikan.
Jadi, sorotan itu semata-mata persoalan sirik?
Iya, kan? Saya, sih, melihatnya dari yang gampang saja. Ringan-ringan saja menanggapi soal itu, ha-ha-ha....
Apakah tidak terkait dengan isu pribumi dan nonpribumi?
Sekarang, kami tanya kembali kepada orang yang mempersoalkan: apakah mereka lebih senang melihat kemajuan pengusaha pribumi meski dekat dengan keluarga presiden atau pengusaha nonpribumi yang suatu saat akan melakukan kontrol segala-galanya, termasuk ekonomi, politik, dan budaya. Apakah hal terakhir itu yang mereka inginkan? Mengapa lantas terus meributkan pengusaha pribumi yang dekat dengan keluarga presiden? Kalau bukan kami yang maju, siapa lagi? Pengusaha pribumi lain memang mengalami kemajuan, tapi apakah bisa secepat itu majunya? Silakan pikir dari segi kemandirian dan kemajuan bangsa. Bila pribumi maju lantas diributkan, mengapa nonpribumi maju justru didiamkan?
Tapi, pengusaha pribumi yang maju lebih cepat memang putra-putri presiden....
Pengusaha pribumi lain juga banyak di Indonesia. Tapi, perkembangannya memang tidak cepat. Meski begitu, ada juga yang sukses, seperti Bakrie atau Bukaka. Padahal, bangsa ini masih membutuhkan pengusaha pribumi sukses lebih banyak lagi. Mana pengusaha pribumi yang lain? Sementara ini, yang lain itu kebetulan saja berasal dari keluarga presiden sendiri. Mengapa Bakrie sukses tidak diributkan? Atau, kenapa Grup Modern dan Salim sukses juga didiamkan saja? Yang penting sebetulnya memberikan kontribusi besar kepada bangsa. Contohnya, pembangunan pabrik Timor akan menciptakan ribuan lapangan kerja. Ekspor Timor nanti akan mendatangkan devisa. Begitu juga dengan pajak yang akan dibayar oleh Timor ke negara. Memberikan devisa ke negara berarti juga memberikan pemasukan kepada rakyat.
Anda juga melihat sorotan itu bermuatan politik?
Dari segi politik, orang memang akan selalu mengait-ngaitkan dan mencari-cari kesalahan. Tapi, bila dari segi bisnis semata, tentu orang sulit mengkritik. Atau, kritik pasti tidak akan terlalu banyak. Kami sebagai putra-putri presiden tentu memiliki kaitan politis. Soalnya, presiden sebagai mandataris MPR, sebagai birokrat. Posisi itu membuat orang mencari-cari kelemahan birokrat itu sendiri (presiden) atau keluarga-keluarganya. Pokoknya, orang selalu melihat apakah ada yang bisa dijelek-jelekkan. Tujuannya. masyarakat ikut melihat dari segi negatifnya, bukan dari segi baiknya. Dengan demikian, tidak akan memperoleh simpati dari masyarakat. Hal itu selalu begitu, sekalipun yang dilakukan birokrat (presiden) atau keluaranya sudah baik bagi bangsanya.
Bukankah dengan menjadi putra-putri presiden akan lebih mudah memetik keuntungan dari kebijakan atau konsesi pemerintah?
Kalau orang mau mengait-ngaitkan hal itu, sekali lagi, ya, bisa saja. Tapi, yang lebih penting apakah yang dilakukan putra-putri presiden lebih merugikan atau menguntungkan masyarakat. Program mobnas misalnya. Masyarakat diuntungkan karena harga mobil bisa lebih murah meski belum semurah yang diharapkan.
Masak, posisi sebagai putra presiden tidak mempermudah bisnis yang dilakukan?
Terus terang, saya tidak bisa membuktikan. Soalnya, sejak awal terjun ke bisnis, saya sudah sebagai putra presiden. Bagaimana saya bisa membandingkan apakah posisi tersebut membuat lebih gampang atau tidak?
Paling tidak, proposal yang Anda ajukan membuat rekanan bisnis lebih menaruh respek atau malah takut...
Itu sebetulnya lebih terkait dengan kepribadian yang bersangkutan, bagaimana cara dia menanggapi suatu proposal. Bila memang dapat dipercaya, pasti akan menimbulkan respek. Jadi, persoalannya bukan siapanya, melainkan bagaimana dia melakukan sesuatu.
Posisi itu setidaknya akan membuat orang lain yang mengajukan dan memutuskan pemenang tender suatu proyek menjadi ngeri juga.
Kami mengajukan tender juga biasa saja. Kami mengikuti tender secara terbuka dan adil. Pemerintah sendiri setiap kali juga membuka tender secara terbuka. Bagaimana kami bisa "bermain" didalam suasana seperti itu? Kami sendiri sering kalah dalam tender sebuah proyek. Tapi, sekali lagi, bila kalah, tidak pernah diekspos. Bila menang, diekspos. Lalu, dikatakan: dia lagi, dia lagi.
Anda pernah kalah dalam tender apa saja?
Kami pernah kalah dalam tender di Departemen Penerangan. Waktu itu, proyeknya tukar tanah (ruitslag) di daerah Pecenongan, yang saat ini sudah menjadi pertokoan. Pernah juga kalah tender di Departemen Luar Negeri untuk proyek pembangunan kantor Departemen Luar Negeri di Pejambon. Begitu juga dengan beberapa proyek di Pertamina. Kami kalah karena ada yang bisa menawarkan proposal lebih baik. Tidak ada istilah "selalu berusaha untuk menang".
Tapi, tetap lebih banyak menang tender daripada kalahnya?
Kami tidak pernah membandingkan. Tapi, di antara kalah tender masih ada tender yang dimenangkan. Karenanya, masih tetap bisa survive dan bisa mengembangkan proyek baru. Tender-tender seperti itu sifatnya sementara. Karena itu, Humpuss mengembangkan industri petrokimia dan industri metanol di Bontang, Kalimantan, yang akan mulai berproduksi pada September nanti.
Sorotan itu sama sekali bukan persoalan bagi Anda?
Sekali lagi, selama kami tidak merampok uang negara atau merugikan negara, kenapa harus kami pikirkan atau takutkan. Bila kami dianggap merugikan uang negara, silakan buktikan. Apa dasarnya, apa buktinya menuduh seperti itu?
Bagaimana prospek bisnis Anda bila Pak Harto pensiun nanti?
Pengaruhnya tentu ada. Tapi, karena sudah dikelola secara profesional dan baik, pengaruh itu pasti akan sedikit sekali. Kami sudah memiliki industri sendiri. Bukan hanya usaha dagang. Kami selama ini memproduksi dari pabrik sendiri. Mengapa hal itu mesti dikhawatirkan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila Pak Harto pensiun. Semua sudah direncanakan secara matang.
Apakah putra-putri presiden sempat meminta agar Pak Harto tidak lagi meneruskan kepemimpinan nasional?
Saya pernah memberi pernyataan lima tahun lalu. Akhirnya, ibu saya sudah dipanggil Tuhan sebelum bapak (Pak Harto) pensiun. Beliau tidak bisa bebas menikmati hari tuanya secara bersama-sama. Kami mengharapkan agar regenerasi bisa dilaksanakan. Semoga pada tahun 1998 bisa dilaksanakan dengan lebih baik. Tujuannya: untuk keselamatan bangsa dan negara Indonesia sendiri. Jangan sampai menunggu terulang kejadian seperti ibu (pada Pak Harto). Bila hal itu terjadi, akan membahayakan bangsa Indonesia.
Apakah tidak secara eksplisit meminta Pak Harto untuk mundur sebagai presiden karena pertimbangan usia?
Sejak lima tahun lalu, saya meminta Pak Harto mundur, meminta agar bapak saya pensiun. Tapi, mungkin, lima tahun lalu masih diperlukan karena Presiden Republik Indonesia saat itu masih menjabat sebagai Ketua Gerakan Nonblok. Yang dilihat waktu itu Pak Hartonya, bukan presiden-nya. Bila saat itu pensiun, kok, kepercayaan besar dari negara berkembang di seluruh dunia itu terkesan disepelekan. Itu salah satu yang menjadi tolok ukurnya. Tapi, bila diminta terus oleh masyarakat, akhirnya akan menjadi presiden seumur hidup. Sekali lagi, seperti pernah saya sampaikan, hal itu tidak baik bagi kesinambungan bangsa ini. Bila terjadi sesuatu pada bapak, sebagai batasan kemampuan manusia meski sebetulnya kita tidak menginginkan, justru malah berbahaya bagi bangsa ini.
Lima tahun lalu, Anda pernah menyampaikan agar Pak Harto mundur. Bagaimana dengan sekarang?
Saya pikir sama saja. Saat ini malah waktu yang baik dan tepat. Tahun ini adalah 50 tahun pernikahan, tapi tidak bisa dirayakan bersama karena ibu sudah mendahului kita. Itu yang membuat kita merasa kehilangan. Kami hanya bisa mendoakan (Ibu Tien) agar dilapangkan jalannya. Sebetulnya, tidak semua keinginan manusia bisa dipenuhi. Tapi, yang lebih penting adalah kesinambungan pembangunan bangsa Indonesia menghadapi Pembangunan Jangka Panjang II yang akan berakhir tahun 2018. Dan, jelas, tidak mungkin mengharapkan bapak terus memimpin sampai tahun 2018. Manusia, bagaimanapun, memiliki keterbatasan. Karena itu, keterbatasan sebagai manusia harus dipertimbangkan semua pihak. Minimal menjadi pertimbangan bagi Golkar yang akan mengontrol mayoritas kursi atau suara di MPR. Tentu, dalam musyawarah, itu harus dituangkan, dibahas, diputuskan yang terbaik bagi kesinambungan bangsa dan negara ini.
Apakah keinginan Anda tadi akan disampaikan juga? Maksudnya, sebagai anggota Golkar ke pimpinan tertinggi Golkar?
Tergantung momentum dan event-nya. Saya rasa yaug paling tepat nanti di Sidang Umum MPR, dalam sebuah rapat yang membahas calon presiden dan wakil presiden. Membahas wakil presiden sekarang juga tidak etis karena posisi itu sangat terkait dengan presidennya: siapa dulu presidennya. Bila sudah ditentukan wakil presiden tapi presiden sendiri tidak menginginkan orang tersebut, tetap tidak akan bisa berjalan.
Mbak Tutut sering disebut-sebut sebagai calon wakil presiden....
Sekadar disebut, sih, boleh-boleh saja. Itu menjadi hak setiap orang untuk menyebut calon wakil presiden. UUD 1945 kan menjamin kebebasan bersuara, berserikat, dan berkumpul.
Omong-omong, apa yang membuat Anda suka kepada istri Anda?
Tidak usahlah yang begitu dikasih tahu. Itu urusan pribadi, haha-ha....
Selain cantik, apa yang membuat Anda suka?
Takdir, saya rasa, ha-ha-ha.... Sudah takdir dari yang di atas sana, ha-ha-ha....
Kapan kenal pertama kali?
Wah, itu, sih, enggak boleh tahu, deh, ha-ha-ha....
Kalaupun takdir, kan punya tahapan juga?
Belum tentu punya tahapan. Lihat saja orang dulu. Mungkin belum pernah bertemu, tapi sudah dijodohkan. Hidupnya bisa langgeng.
Setelah pernikahan, ke mana pergi berbulan madu?
Belum. Kita belum pergi berbulan madu. Tidak perlu berbulan madu, ha-ha-ha.... Ada atau tidak ada bulan madu, ya, sama saja.
Apa maksudnya sama saja?
Ketemunya di ranjang juga, kan, ha-ha-ha....
Apa perubahan yang Anda rasakan setelah perkawinan?
Perubahan-perubahan pasti ada dan terasa. Kami memiliki teman hidup di rumah, teman untuk berbicara, dan sebagainya. Mungkin, karena saya sudah lama terbiasa hidup sendiri, kini merasakan perlu ada penyesuaian-penyesuaian.
Penyesuaian apa saja?
Sekarang sudah tidak bisa bebas lagi. Kalau dulu, mau pergi ke mana-mana bebas. Sekarang tidak bisa seperti itu lagi. Harus ada yang dilapori atau diberitahu dulu, baru pergi. Sekarang ada yang mengeluh kalau tidak melapor.
Apa istri Anda akan dilibatkan dalam bisnis juga?
Kalau langsung dilibatkan, pasti tidak. Kalau jangka panjang, saya juga belum tahu. Nanti dilihat dulu perkembangannya. Bagi perempuan, yang penting terutama mengurus rumah lebih dulu dan keturunan kalau memang dikaruniai. Kalau semua sudah mapan dan masih ada waktu, baru mulai mengurus yang lain. Bisa kegiatan sosial atau usaha-usaha lain untuk memanfaatkan waktu yang ada.
Istri Anda sendiri berminat bisnis?
Semua memang bergantung pada istri saya sendiri. Tapi, kelihatannya, dia tidak berminat pada bisnis. Mungkin yang lebih kena bagi dia adalah mengikuti kegiatan-kegiatan sosial.
Omong-omong, nama Anda selalu dikaitkan dengan artis-artis cantik....
Namanya juga orang. Mereka mungkin ingin sensasi, ha-ha-ha....
Gunjingan itu ada dasarnya atau tidak?
Keberadaan saya kan sebagai figur publik. Jadi, kalau ada orang yang melihat saya bersama wanita, mereka langsung berpikir kami sedang berpacaran. Lantas, dia disebut-sebut sebagai pacar saya yang baru. Padahal, mungkin saya baru bertemu satu kali. Atau, bahkan hanya satu kali, pertemuan itu terjadi. Saya tidak pernah bertemu satu kali pun bisa digunjingkan berpacaran dengan orang itu. Jadi, buat apa mesti saya pusing-pusing memikirkan gosip-gosip murahan seperti itu. Biarin saja. Toh, nanti orang akan tahu yang sebenarnya.
Apakah Anda mengenal dekat Tamara Blezinsky seperti yang pernah diisukan?
Tanyakan sendiri kepada orangnya, ha-ha ha ..

*)Majalah D&R, 14 Juni 1997

No comments:

Post a Comment