Popular Posts

Upaya Mengatasi Kemacetan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menaikan parkir tertinggi di lokasi niaga yang padat.Kenaikan ini tak semata-mata untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD),tetapi juga untuk mengurangi kemacetan.

Ibarat semut berebut sebutir gula, setiap hari belasan ribuan kendaraan dari berbagai penjuru berlomba saling berdesakan menuju Ibu Kota Jakarta. Etika dan aturan berlalulintas sudah diabaikan.Walhasil, kemacetan pun tak terhindarkan. Ironisnya, kemacetan ini kini nyaris melanda seluruh wilayah Ibu Kota,mulai dari sejak pagi hingga sore hari.

Selain menghabiskan waktu para pengguna jalan, kemacetan ini menyebabkan polusi yang pemborosan yang tidak sedikit. Di Jakarta, pemacetan disebut-sebut menjadi biang pemborosan energi sebesar Rp7 triliun per tahun.

Pangkal penyebabnya begitu rumit,mulai dari perilaku pengemudi yang tidak disiplin, pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor, hingga sarana jalan yang nyaris tidak bertambah. Memang sulit dibantah,kini rasio jumlah kendaraan dengan sarana jalan semakin tidak seimbang.

Tahun lalu misalnya, jumlah kendaraan roda empat dan dua di Jakarta sudah mencapai 11,1 juta unit. Di sisi lain, pengembangan sarana jalan boleh dibilang lambat.Panjang jalan di Jakarta hingga kini hanya sekitar 7.600 kilometer. Tak heran bila kemacetan kini sudah merata di seluruh jalan di Ibu Kota.

Beragam solusi dan rencana sebenarnya sudah diwacanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Mulai dari kebijakan tree in one, pembuatan mass rapid transit (MRT),rencana penerapan jalan berbayar atau ERP,hingga menggilir kendaraan berdasarkan yang masuk Kota Jakarta berdasarkan nomor pelat atau warna kendaraan.

Nah, rencana terbaru dari Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi kemacetan datang dari Dewan Transportasi Kota Jakarta.Untuk mengurangi kemacetan, Dewan Transportasi mengusulkan kenaikan tarif parkir hingga 500% pada kawasan tertantu. Menurut Azas Tigor Nainggolan, Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta,ada tiga pilihan dan zona dalam perubahan tarif.

Pertama adalah zona pinggir,yang meliputi kawasan Klender, Lenteng Agung dan wilayah lainnya. Zona kedua meliputi kawasan Matraman, Tanah Abang dan lokasi lainnya. Sedangkan zona ketiga meliputi kawasan jalan protokol, seperti Jalan Sudirman, Thamrin, dan Gatot Soebroto.

Perbandingan harga tiket parkir di antara zona tersebut adalah 1:3:5. Saat ini,tarif parkir di kawasan bisnis di Jakarta rata-rata Rp9.186 (US$ 0,92) per hari dan Rp275,58 ribu (US$27,56) untuk bulanan.Masih sangat murah bila dibandingkan dengan negara lainnya.Di Manila (Filipina),yang perekonomiannya hampir sama dengan Indonesia, tarifnya sudah mencapai Rp567.435 atau US$56,83 per bulan.

kawasan Asia Tenggara, Singapura menduduki peringkat pertama dengan tarif US$278,2 per bulan atau sekitar Rp2,8 juta. “Dibandingkan dengan negara lain, tarif parkir di Jakarta memang paling murah,”kata Azaz Tigor. Jika sistem zona diterapkan, tarif parkir di beberapa kawasan di Jakarta akan mengalami kenaikan.

Untuk kawasan Klender (zona satu) misalnya,tarif off street masih tetap Rp3.000.Tetapi untuk kawasan Tanah Abang (zona dua) dan Sudirman (zona tiga) tarifnya akan naik menjadi sekitar Rp9.000 dan Rp15.000. Kenaikannya memang cukup tinggi. Tapi, seperti dikatakan oleh Azaz Tigor, rencana kenaikan tarif tersebut bukan semata-mata untuk menggenjot pemasukan kas daerah.

Tetapi juga untuk mendorong warganya meninggalkan kendaraannya di rumah. Dharmaningtyas, pengamat transportasi, setuju dengan usulan Dewan Transportasi Kota Jakarta tersebut. “Penataan memang harus segera dilakukan. Bila tarif parkir mahal,orang akan berpikir beberapa kali untuk membawa kendaraannya,” katanya.

Cara mengatasi kemacetan dengan memasang tarif parkir yang tinggi sudah dilakukan di beberapa kota di dunia.Kota Oslo, Norwegia,mungkin bisa menjadi contoh.Untuk mendorong warganya meninggalkan mobilnya di rumah,mereka mengenakan tarif parkir mobil yang sangat mahal, yakni US$107 per jam atau sekitar Rp1 juta lebih.Kebijakan serupa juga diterapkan pemerintah Kota Sydney dan Melbourne,Australia. [**]

No comments:

Post a Comment