Popular Posts

Suzuki Investasi Mobil Ramah Lingkungan

JAKARTA--MICOM: Investasi Suzuki yang rencananya menggelontorkan US$800 juta akan memproduksi mobil ramah lingkungan.

Kementerian Perindustrian sendiri kini tengah menyiapkan regulasi terkait rencana mobil murah dan mobil ramah lingkungan (low cost and green car).

"Sekarang, rencana investasi itu ditambah menjadi US$ 800 juta. Kami sudah menyampaikan surat konfirmasi dari Chairman Suzuki Jepang kepada Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat. Saat itu, kami sekalian memperkenalkan Presiden Direktur Suzuki Indonesia yang baru. Investasi itu rencananya untuk memproduksi mobil jenis eco car atau ramah lingkungan," kata Chairman PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Soebronto Laras ketika menyambangi kantor Kemenperin, di Jakarta, Senin (9/5).

Secara terpisah, Hidayat membenarkan rencana investasi tersebut. "Rencananya, investasi itu untuk memproduksi mobil model baru, termasuk low cost and green car. Juga, untuk memproduksi sepeda motor, perluasan kapasitas manufaktur mobil, dan pendirian pabrik mesin dan transmisi," ujar Hidayat.

Investasi tersebut akan dibahas lebih lanjut ketika pimpinan Suzuki Jepang berkunjung ke Indonesia Juli nanti. Namu, sampai kini Soebronto mengaku belum mengajukan permohonan berupa laporan rencana investasi kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Sementara itu, menurut Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin Budi Darmadi, regulasi mobil ramah lingkungan hingga kini masih digodok pemerintah. "Sekarang lagi dibuat aturannya. Regulasinya belum siap," ungkapnya.

Salah satu bahasan yang sudah diwacanakan merupakan harga eco car yang selain ramah lingkungan, juga diharapkan dapat diperoleh dengan murah. Menurut Soebronto, pemerintah menargetkan harga sekitar Rp80 juta perunit untuk mobil tersebut. Namun, kepastiannya masih tergantung kondisi perpajakan.

Investasi Suzuki tersebut menambah lagi investasi di sektor IUBTT. Tahun lalu, investasi di sektor tersebut mencapai Rp13,91 triliun. Rincian investasi tersebut berasal dari investasi industri komponen otomotif Rp3 triliun, industri galangan kapal Rp439 miliar, industri sepeda sebesar Rp150 miliar, sektor transportasi sebesar Rp5,2 triliun, sektor permesinan Rp130 miliar, serta sektor elektronika dan telematika Rp3,4 triliun.

"Itu semua realisasi-realisasi investasi yang terdeteksi, tidak termasuk di Batam. Biasanya, kalau industri besarnya berinvestasi, diikuti perluasan atau investasi oleh industri komponen. Sekitar 20-30% dari total investasi industri besarnya, tergantung jenis dan produknya. Selama 2010, investasi di komponen tier I dan II sekitar Rp 1,6 triliun," pungkas Budi. (*/OL-3)

No comments:

Post a Comment